Cari Blog Ini

Minggu, 05 Desember 2021

Kurikulum Baru

SELAMAT DATANG KURIKULUM BARU 



Kurikulum Paradigma Baru

Mulai tahun pelajaran 2021-2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah meluncurkan Kurikulum Paradigma Baru sebagai penyempurnaan dari KTSP 2013. Kurikulum Paradigma Baru ini akan diberlakukan secara terbatas dan bertahap melalui program sekolah penggerak dan pada akhirnya akan diterapkan pada setiap satuan pendidikan yang ada di Indonesia. 

Sebelum diterapkan pada setiap satuan pendidikan, mari kita mengenal 7 (tujuh) hal baru yang ada dalam Kurikulum Paradigma Baru. Pertama, struktur kurikulum, Profil Pelajar Pancasila (PPP) menjadi acuan dalam pengembangan Standar Isi, Standar Proses, dan Standar Penilaian, atau Struktur Kurikulum, Capaian Pembelajaran (CP), Prinsip Pembelajaran, dan Asesmen Pembelajaran. 

Secara umum Struktur Kurikulum Paradigma Baru terdiri dari kegiatan intrakurikuler berupa pembelajaran tatap muka bersama guru dan kegiatan proyek. Selain itu, setiap sekolah juga diberikan keleluasaan untuk mengembangkan program kerja tambahan yang dapat mengembangkan kompetensi peserta didiknya dan program tersebut dapat disesuaikan dengan visi misi dan sumber daya yang tersedia di sekolah tersebut. 

Kedua, hal yang menarik dari Kurikulum Paradigma Baru yaitu jika pada KTSP 2013 kita mengenal istilah KI dan KD yaitu kompetensi yang harus dicapai oleh siswa setelah melalui proses pembelajaran, maka pada Kurikulum Paradigma Baru kita akan berkenalan dengan istilah baru yaitu Capaian Pembelajaran (CP) yang merupakan rangkaian pengetahuan, keterampilan, dan sikap sebagai satu kesatuan proses yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh. Oleh karena itu, setiap asesmen pembelajaran yang akan dikembangkan oleh guru haruslah mengacu pada capaian pembelajaran yang telah ditetapkan. 

Ketiga, pelaksanaan proses pembelajaran dengan pendekatan tematik yang selama ini hanya dilakukan pada jenjang SD saja, pada kurikulum baru diperbolehkan untuk dilakukan pada jenjang pendidikan lainnya. Dengan demikian pada jenjang SD kelas IV, V, dan VI tidak harus menggunakan pendekatan tematik dalam pembelajaran, atau dengan kata lain sekolah dapat menyelenggarakan pembelajaran berbasis mata pelajaran. 

Keempat, jika dilihat dari jumlah jam pelajaran, Kurikulum Paradigma Baru tidak menetapkan jumlah jam pelajaran perminggu seperti yang selama ini berlaku pada KTSP 2013, akan tetapi jumlah jam pelajaran pada Kurikulum Paradigma Baru ditetapkan pertahun. Sehingga setiap sekolah memiliki kemudahan untuk mengatur pelaksanaan kegiatan pembelajarannya. Suatu mata pelajaran bisa saja tidak diajarkan pada semester ganjil namun akan diajarkan pada semester genap atau dapat juga sebaliknya, misalnya mata pelajaran IPA di kelas VIII hanya diajarkan pada semester ganjil saja. Sepanjang jam pelajaran pertahunnya terpenuhi maka tidak menjadi persoalan dan dapat dibenarkan. 

Kelima, Sekolah juga diberikan keleluasaan untuk menerapakan model pembelajaran kolaboratif antar mata pelajaran serta membuat asesmen lintas mata pelajaran, misalnya berupa asesmen sumatif dalam bentuk proyek atau penilaian berbasis proyek. Pada Kurikulum Paradigma Baru siswa SD paling sedikit dapat melakukan dua kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Sedangkan siswa SMP, SMA/SMK setidaknya dapat melaksanakan tiga kali penilaian proyek dalam satu tahun pelajaran. Hal ini bertujuan sebagai penguatan Profil Pelajar Pancasila. 

Keenam, untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang pada KTSP 2013 dihilangkan maka pada Kurikulum Paradigma Baru mata pelajaran ini akan dikembalikan dengan nama baru yaitu Informatika dan akan diajarkan mulai dari jenjang SMP. Bagi sekolah yang belum memiliki sumber daya/guru Informatika maka tidak perlu khawatir untuk menerapkan mata pelajaran ini karena mata pelajaran ini tidak harus diajarkan oleh guru yang berlatarbelakang TIK/Informatika, namun dapat diajarkan oleh guru umum. Hal ini disebabkan karena pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mempersiapkan buku pembelajaran Informatika yang sangat mudah digunakan dan dipahami oleh pendidik dan peserta didik. 

Ketujuh, untuk mata pelajaran IPA dan IPS pada jenjang Sekolah Dasar Kelas IV, V, dan VI yang selama ini berdiri sendiri, dalam Kurikulum Paradigma Baru kedua mata pelajaran ini akan diajarkan secara bersamaan dengan nama Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam Sosial (IPAS). Hal ini bertujuan agar peserta didik lebih siap dalam mengikuti pembelajaran IPA dan IPS yang terpisah pada jenjang SMP. Sedangkan pada jenjang SMA peminatan atau penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa akan kembali dilaksanakan pada kelas XI dan XII. 

 #nadiemmakarim #kurikulumparadigmabaru2022 
Sumber asli : Facebook

Jumat, 12 November 2021

TUGAS VLOG

Pembelajaran Menggunakan Model Discovery Learning dalam Memanfaatkan Fitur Rumah Belajar


Pemanfaatan fitur-fitur Rumah Belajar dalam pembelajaran merupakan hal yang mutlak dilakukan dalam pemenuhan tugas PembaTIK Level 4. Dalam implementasinya, setiap kelompok dalam PembaTIK diberikan satu model pembelajaran yang sama. Sementara untuk pemanfaatan fitur-fitur Rumah Belajar masing-masing peserta wajib mengambil satu fitur yang berbeda. Jadi, semua fitur dalam Rumah Belajar nanti pada akhirnya akan diterapkan semua oleh peserta satu kelompok. 

Pada kesempatan ini saya memilih fitur Peta Budaya dan Bank Soal. Mengapa saya memilih fitur tersebut, karena saya sesuaikan dengan pembelajaran di kelas 5 tema budaya nasional. Selain itu, saya juga mengaitkannya dengan kearifan lokal berupa situs candi sebagai peninggalan sejarah dan budaya dan ritual adat sebagai warisan budaya nenek moyang. 

Pada awal pembelajaran anak-anak saya ajak menggali pengetahuan mereka tentang peninggalan budaya di sekitar. Setelah itu anak-anak saya ajak untuk berkelompok lalu membuka Rumah Belajar dan membuka fitur Peta Budaya. Di sana masing-masing kelompok saya beri tugas untuk memilih salah satu budaya yang disajikan, lalu menggali pengetahuan yang mereka dapatkan di sana dengan berdiskusi secara kelompok. 

Setelah masing-masing kelompok selesai berdiskusi dan menemukan pengetahuan baru, masing-masing perwakilan kelompok memresentasikan hasil diskusi keloompoknya. Sementara itu kelompok lain menyimak dan menanggapi. Saya sendiri sebagai guru ikut menyimak jalannya diskusi lalu memberikan penguatan kepada siswa terkait materi yang mereka pilih dan bahas. 

Kemudian untuk menguji pengetahuan dan pemahaman mereka akan materi, mereka saya arahkan untuk membuka fitur Bank Soal dan memilih kategori soal yang sesuai dengan jenjang, kelas, dan mata pelajaran yang sesuai dengan materi diskusi mereka. 

Dengan pembelajaran model Discovery Learning memanfaatkan fitur Rumah Belajar ini, anak-anak lebih semangat dan antusias dalam mengikuti pembelajaran. Selain meningkatkan pemahaman mereka akan materi, model pembelajaran ini juga membuat perasaan mereka lebih senang dan enjoy. Hingga akhirnya waktu pembelajaran yang biasanya terasa lama seperti tak terasa. Tiba-tiba saja waktu sudah habis dan harus segera berbenah untuk pulang. 

Rasa kurang puas pun tergambar di wajah mereka. Namun, mereka kembali ceria saat saya menyampaikan bahwa belajar menggunakan Rumah Belajar dapat mereka lnjutkan di rumah, karena sejatinya belajar dengan Rumah Belajar adalah belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Jangan lupa untuk mengakses Rumah Belajar di laman https://belajar.kemdikbud.go.id

Untuk melihat video rekaman pembelajaran dapat diakses melalui link youtube https://youtu.be/TkhwsurNQCE

Kamis, 11 November 2021

Berbagi & Berkolaborasi

 SRB Jatim 4 Berbagi


Berbagi dan berkolaborasi merupakan suatu tugas yang wajib dilakukan oleh para peserta PembaTIK Level 4 guna mensosialisasikan Portal Rumah Belajar. 
Pada kesempatan berbagi ini saya berkolaborasi dengan teman satu kelompok yaitu di Kelompok 4 Sahabat Rumah Belajar Jawa Timur 2021. Dalam satu kelompok ini beranggotakan 8 orang SRB Jawa Timur yang tersebar di berbagai kota/ daerah di Jawa Timur yang terdiri dari Nastiti Rahajeng dari Kota Malang, Vita Aurora Sudiono dari Kota Malang, Djono Paringadi dari Paringadi, Andriani Okiriani dari Patokan, Abd. Hamid dari Juglangan, Agustina Arisanti dari Jember, Yatnawati Ayu Kartini dari Bantaran, dan saya sendiri, Linda Puspita dari Kabupaten Malang.




Acara sosialisasi dilaksanakan secara daring melalui streaming YT. Dimulai pukul 19.00 sampai dengan 21.00 dengan rangkaian acara sebagai berikut:
1. Host dan moderator disampaikan oleh Yatnawati Ayu Kartini
2. Materi pertama tentang pengenalan portal Rumah Belajar disampaikan oleh Abd. Hamid
3. Materi kedua tentang fitur utama Rumah Belajar Kelas Maya dan Bank Soal oleh Djono Paringadi
4. Materi ketiga tentang fitur utama Rumah Belajar Sumber Belajar dan Laboratorium Maya oleh Agustina Arisanti
5. Materi keempat dan kelima tentang fitur pendukung Rumah Belajar yang disampaikan oleh Nastiti Rahajeng dan Vita Aurora Sudiono
6. Materi keenan tentang Program PembaTIK yang saya sampaikan sendiri.
7. Materi terakhir tentang Praktik Baik Pembelajaran dengan memanfaatkan portal Rumah Belajar yang disampaikan oleh Andriani Okiriani.

Acara tersebut diikuti oleh peserta dari seluruh wilayah Indonesia. Peserta sangat antusias dan tertarik dengan kegiatan berbagi ini. Terbukti dari peserta banyak yang bertanya dan ingin mengetahui lebih banyak mengenai portal Rumah Belajar ini.

Demikian acara berbagi dan berkolaborasi kami, jangan lupa mengakses portal Rumah Belajar untuk pembelajaran melalui link https://belajar.kemdikbud.go.id/ 




Rabu, 10 November 2021

Berbagi & berkolaborasi

 SRB Malang Raya Berbagi



Salah satu tugas dari PembaTIK Level 4 adalah Berbagi dan Berkolaborasi. Untuk memenuhi tugas tersebut, kami para SRB Jawa Timur dari Kabupaten Malang dan Kota Malang melakukan kolaborasi untuk berbagi mengenai Rumah Belajar kepada masyarakat.

Aksi berbagi ini kami laksanakan pada hari Jumat, 5 November 2021 secara virtual melalui streaming Youtube. Dalam kegiatan ini kami mengusung judul "Lebih Dekat dengan Rumah Belajar" dengan materi seputar fitur-fitur Rumah Belajar dan pemanfaatannya.


Kegiatan kami mulai pukul 13.00 dan berakhir 1 jam kemudian dengan dimoderatori oleh Nastiti Rahajeng. Materi pertama tentang Fitur Utama Rumah Belajar yang disampaikan oleh Linda Puspita (saya sendiri), kemudian disusul dengan Materi Fitur Pendukung Rumah Belajar oleh Vita Aurora Sudiono, Materi Ketiga tentang PembaTIK oleh Siti Fitriyah, dan materi terakhir tentang sharing praktik baik pemanfaatan Rumah Belajar dalam  pembelajaran oleh Nastiti Rahajeng.

  

Dalam kegiatan ini peserta yang mengikuti sebanyak 49 orang yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Peserta mendapatkan ilmu yang bermanfaat mengenai Rumah Belajar dan mendapatkan e-piagam kepesertaan jika telah mendaftar, mengikuti acara, dan mengisi daftar hadir.

Demikian kegiatan Berbagi dan Berkolaborasi yang kami lakukan. Semoga bermanfaat.

Jangan lupa mengakses Rumah Belajar di https://belajar.kemdikbud.go.id

Belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

Coaching

Coaching Perdana Pembatik Level 4

Provinsi Jawa Timur

 

Seperti halnya kegiatan PembaTIK pada tahun-tahun sebelumnya, demi kelancaran dan kesuksesannya perlu diadakan pendampingan dan coaching kepada para peserta PembaTIK Level 4.
Untuk wilayah Jawa Timur, Coaching perdana dilaksanakan pada hari Minggu, 31 Oktober 2021 pukul 09.00 hingga selesai pada pukul 12.30 WIB.

Coaching perdana ini menghadirkan Tim Pusdatin Kemdikbudristek, Ibu Mamik selaku Kabid GTK Dispendik Surabaya, Duta Rumah Belajar Jawa Timur tahun 2017-2020, dan 30 orang guru Sahabat Rumah Belajar Jawa Timur selaku peserta PembaTIK Level 4.

Acara dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya disusul dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Cak Rachmat (DRB Jawa Timur 2018). Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan penjelasan program PembaTIK oleh Tim Pusdatin yang disampaikan oleh Bapak Arif Darmawan.

PembaTIK merupakan singkatan dari Pembelajaran Berbasis TIK, yaitu suatu program peningkatan kompetensi TIK guru yang mengacu pada standar kompetensi TIK guru dari UNESCO. Program ini terdiri dari empat tahap atau level, yaitu Level 1 Literasi, Level 2 Implementasi, Level 3 Kreasi, dan Level 4 Berbagi.


Acara berikutnya adalah sambutan dari Bu Mamik selaku Kabid GTK Dispendik Surabaya. Dalam penjelasan beliau disebutkan bahwa guru terbagi menjadi 4 kategori utama berdasarkan kompetensi dan komitmennya, yaitu:

1. Guru Kategori 1/ Kuadran I
Guru pada kuadran ini disebut sebagai guru profesional, yaitu guru yang memiliki komitmen tinggi serta memiliki kemampuan untuk mengembangkan dirinya secara berkelanjutan dan terus-menerus.

2. Guru Kategori 2/ Kuadran II
Merupakan guru-guru yang suka mengritik, suka mencetuskan ide-ide hebat, dan memiliki rencana-rencana besar dan hebat namun jarang atau bahkan tidak pernah diwujudkan. Hanya sebatas angan-angan tanpa adanya aksi nyata.

3. Guru Kategori 3/ Kuadran III
Merupakan guru-guru yang melakukan rutinitas ala kadarnya tanpa ada tanggung jawab yang berarti. Mereka juga tidak berkomitmen untuk meningkatkan kompetensi atau melakukan pengembangan diri sehingga sangat enggan untuk keluar dari zona nyamannya. Istilahnya asal gugur kewajiban.

4. Guru Kategori 4/ Kuadran IV
Guru pada kuadran ini sangat energik, antusias, banyak kemauan, dan terlihat sangat sibuk. Sayangnya kemauan guru ini tidak diimbangi dengan kemampuan/ kompetensinya.


Dari kategori tersebut, Bu Mamik memasukkan para peserta PembaTIK Level 4 ke dalam Kuadran I di mana para peserta berkomitmen tinggi untuk berbagi dan berkolaborasi dengan yang lain.

Acara berikutnya diisi dengan perkenalan peserta, pembagian kelompok, dan diskusi kelompok mengenai penetapan Sub Tema dalam berbagi dan berkolaborasi. 


Dilanjutkan dengan materi penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang disampaikan oleh Bu Eni dari Pusdatin yang merupakan materi penutup untuk kegiatan ini.


Jangan lupa mengakses Rumah Belajar di https://belajar.kemdikbud.go.id agar kita bisa belajar di mana saja, kapan saja, dengan siapa saja.

SERUNYA EDUGAME

 Serunya Belajar dengan Edugame



Pembelajaran yang dilakukan terus-menerus tanpa adanya inovasi tentunya membuat siswa merasa jenuh dan capai. Semangat belajar pun semakin menurun. Terlebih di penghujung minggu dan saat-saat waktu pembelajaran akan usai.
Menurunnya semangat belajar siswa akan mempengaruhi pula fokus dan penerimaan siswa akan materi pelajaran ke dalam otaknya. Hal ini akan membuat pembelajaran hanya sebagai suatu kewajiban yang harus digugurkan dan dianggap sebagai angin lalu sesudahnya, tanpa memberikan kesan yang bermakna kepada siswa.

Bertolak pada fenomena tersebut, Pusdatin Kemdikbudristek menghadirkan inovasi baru mengenai pembelajaran berbasis TIK melalui salah satu fitur tambahan dalam portal Rumah Belajar berupa Edugame.

Fitur Edugame ini sudah dicoba dimanfaatkan oleh siswa kelas 5 SD Negeri 1 Toyomarto, Kecamatan Singosari Kabupaten Malang pada hari Selasa, 26 Oktober 2021. Di sela-sela menunggu kegiatan gladi ANBK dimulai, anak-anak memanfaatkan waktu dengan bermain Edugame.
Pertama dikenalkan dengan fitur tersebut, mereka sudah sangat antusias dan tertarik. Mereka sudah tak sabar untuk segera mencoba permainan edukasi tersebut.

Setelah mereka diberi kesempatan untuk mencoba bermain secara bergantian karena unit komputernya terbatas, mereka pun sangat bersemangat dan antusias. Terlihat wajah-wajah bahagia di sana. Teriakan-teriakan kegembiraan pun menggaung di ruang kelas itu. Manambah keseruan dalam kegiatan yang mereka lakukan. Hingga tak terasa, waktu gladi ANBK sudah mulai. Dengan raut kecewa, mereka pun terpaksa harus mengakhiri keseruannya. Namun, wajah mereka kembali bersinar kala guru memberitahukan bahwa Edugame dapat mereka akses kembali di rumah melalui laman https://belajar.kemdikbud.go.id/edugame

Yuk...belajar dengan Edugame dan nikmati keseruannya di sana!
Dengan Edugame, belajar serasa bermain.


Rabu, 03 November 2021

EDUGAME

 Belajar dengan Edugame



Di era digital 4.0 ini, belajar tidak hanya dilakukan melalui buku pelajaran saja, tetapi bisa juga melalui teknologi. Salah satunya melalui permainan elektronik.

Untuk meningkatkan semangat dan motivasi siswa akan belajar melalui teknologi, Pusdatin Kemdikbudristek tidak hanya mengembangkan fitur-fitur mengenai materi pelajaran saja, namun juga mengembangkan pembelajaran inovatif berbasis TIK berupa permainan interaktif yang diberi label Edugame. 

Semenjak rilis tahun 2020 lalu, Edugame sudah sangat diminati oleh siswa. Karena saat memainkan Edugame, siswa merasa senang dan santai sehingga tidak terasa jika saat mereka bermain itu mereka juga sekaligus belajar. Selain itu, siswa juga tidak akan merasakan jenuh saat belajar dengan Edugame.

Fitur Edugame ini tentu sangat diminati oleh siswa, selain permainannya yang mengasyikkan fitur ini juga dapat diakses di portal Rumah Belajar secara gratis. Fitur ini pun dapat dimanfaatkan oleh siswa dan guru dari berbagai jenjang. Mulai dari PAUD, SD, SMP, hingga SMA/ SMK.

Fitur Edugame ini menyediakan beragam permainan interaktif yang dapat dimanfaatkan oleh siswa baik secara mandiri maupun secara bersama dengan bimbingan guru atau orang tua. Permainan ini sangat menarik untuk dimainkan oleh siswa. 

Ada beragam permainan yang dirilis dan dapat dimainkan siswa, yaitu:

  1. Courier Go
  2. Menata Bola
  3. Mengumpulkan telur
  4. Petualangan Antariksa Vol 1
  5. Petualangan Antariksa Vol 2
  6. Snake Chemistry Bonding
  7. Unsur Adventure
  8. Coloid Larva
  9. Match Game Relasi Fungsi
  10. Memanen Apel
  11. Memperbaiki Pagar
  12. Menangkap Balon
  13. Perang Luar Angkasa
Untuk mencoba berbagai permainan interaktif tersebut kita dapat langsung mengunjungi laman https://belajar.kemdikbud.go.id/edugame

Itulah berbagai permainan interaktif yang disediakan di fitur Edugame. Selamat mencoba!











Kurikulum Baru

SELAMAT DATANG KURIKULUM BARU  Kurikulum Paradigma Baru Mulai tahun pelajaran 2021-2022, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Tekn...